Rabu, 13 Januari 2010

Prediksi Ketua Umum SH Terate: 2010 Pemimpin Banyak Dipermalukan Rakyat

Psikologi massa di tahun 2010 masih belum bergeser dari tahun 2009. Martabat pemimpin belum “dunung” pada ranah “panembah”. Dampaknya, kepercayaan rakyat masih jauh asap dari api. Bahkan, banyak pemimpin baik secara langsung maupun tidak langsung, dicaci maki oleh rakyat.

Prediksi psikologi massa itu dilontarkan Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, H. Tarmadji Boedi Harsono,SE, saat berdialog dengan shteratecantrik, di kediaman beliau, awal tahun 2010. Tak biasanya Mas Madji, panggilan akrab H Tarmadji, kelontarkan prediksi seperti ini. “Hanya pemimpin yang bekerja dengan rajin, jujur, ikhlas dan tak pernah menuntut itulah, yang bakal selamat dan dicintai rakyatnya,” ujarnya.

Kasus wapres Budiyono diteriaki maling oleh pengunjukrasa dalam acara pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) yang dihelat Pansus Centuri DPR RI, merupakan bukti kebenaran riil dari prediksi Tokoh Sejuta Pesona ini.

Meski enggan menyebut nama-nama pemimpin yang bakal dipermalukan rakyatnya sendiri, Mas Madji, memberi isyarat tentang pergeseran nilai jungkir balik soal kesantunan “kuwula” terhadap “gusti”. “Kawula sekarang tak lagi menghormati gusti, atau pemimpin. Kenapa ini terjadi? Karena banyak pemimpin yang tidak lagi ngugemi makom kepemimpinannya. Mereka maunya serba instant. Tidak mau nandur, tapi mau segera panen,” jelas Mas Madji.

Kedua, kalau ada pemimpin yang menanam benih, lanjut budayawan kelahiran Madiun ini, benih yang ditanam juga benih instant. Bukan benih dharma yang dilandasi keikhlasan, tapi benih kepentingan.”Mereka mau memberi tapi tidak dilandasi keikhlasan. Yang ada hanya kekarepan, kekerepaning manungso bukan Kekarepaning Gusti,” katanya.

Ini, tegas ketua umum SH Terate, jelas mengingkari kodrat. Menyalahi proses. Padahal, hidup merupakan kalinan proses yang telah terangkai dalam sunatullah. “Contohnya itu tadi. Panen., Tidak akan ada musim panen jika tidak ada musim tanam, Wong malas nanam kok kepingin panen. Gak ada itu dalam rumus kehidupan. Orang kalau mau panan yang harus nandur dulu,” kata Mas Madji.

Lalu bagaimana agar menjalni tahun 2010 ini kita bisa selamat dan barokah. Menurut Mad Madji, ada llima kunci sukses dalam hidup. Pertama, jujur. Kedua, rajin. Ketiga, tidak suka menuntut. Keempat, iklas dan pantang penyerah. Kelima, yakin.

Tasyakuran Warga Baru Undang Ki Manteb Soedarsono



SH Terate Pusat Madiun berencana menggelar acara wayangan semalam suntuk. Ini merupakan tradisi tahunan, kemasan acara tasyakuran warga baru SH Terate 1431 H. Dalang kondang Ki Manteb Soedarsono, sepakat memeriahkan acara tasyakuran. Panitia menjadwalkan, insya Allah pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu dihelat di Padepokan SH Terate Pusat Madiun, 14 Januari 2010.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jajaran pengurus pusat sudah membentuk panitia yang didaulat mandegani acara ini. “Lakonnya sedang kami cari. Disesuaikan dengan situasi kondisi mutahir saat ini,” ujar Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, H. Tarmadji Boedi Harsono,S.E.

Sebagai organisasi pelestari kebudayaan bangsa, lanjut Mas Madji, panggilan akrab ketua umum SH Terate Pusat Madiun, SH Terate terpanggil untuk tetap nguri-nguri dunia pakeliran alias wayang kulit. Itu pula yang mendasari setiap acara tasyakuran warga baru, SH Terate pasti menggelar wayangan. “Sambil tirakatan di padepokan, kita bisa mengambil pelajaran budi luhur dari dunia pawayangan itu,” lanjut Mas Madji.

Data di sekretariat SH Terate Pusat Madiun menyebut, tahun ini sebanyak 35 ribu warga baru disyahkan. Mereka adalah warga baru SH Terate hasil didikan 187 cabang SH Terate di seluruh Indonesia. Terbanyak masih didominasi cabang-cabang di Madiun dan sekitarnya.

Mas Madji berharap, bertambahnya warga baru ini, mampu memperkokoh tali persaudaraan dan pengembangan ajaran budi luhur di tengah-tengah masyarakat. Menggarisbawahi makna ajaran Setia Hati, ketua umum SH Terate Pusat Madiun meminta kepada Keluarga Besar SH Terate, khususnya warga baru, untuk kembali membaca dan mengamalkan wasiat yang dibacakan saat acara pengesahan.

Berikut wasita Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun yang disampaikan dalam acara pengesahan warga baru 1431 H.

WASIAT KETUA UMUM SH TERATE PUSAT MADIUN


Saya Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, berwasiat :

Pertama:
Bahwa sesungguhnya hakekat hidup ini berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan. Demikian pun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, hendak menuju ke-keabdian kembali kepada Causa Prima, titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat, namun tidak semua insan menyadari bahwa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati sanubarinya.

Mengemban amanat priambol SH Terate alesnia pertama itu, saya berwasiat kepada Keluarga Besar SH Terate untuk terus berjuang membersihkan hati, sehingga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa memberi cahaya kasih, sinar timbal balik, sebagai bekal berdharma untuk mengamalkan ajaran Setia Hati guna membentuk manusia berbudi luhur tahu benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua:
Bahwa Setia Hati sadar dan mangakui hakiki itu dan akan mengajak serta para warganya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani di mana Sang Mutiara Hidup Bertahta.

Menyadari makna hakiki kehidupan ini, maka saya mewajibkan kepada Keluarga Besar Setia Hati Terate untuk memeluk agama dan wajib menjalankan syariat agama yang diyakininya. Sebab, tabir/tirai selubung hati nurani di mana Sang Mutiara Hidup Bertahta, tidak akan tersingkap tanpa ridlo Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Yakinlah, hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Tahu, siapa sesungguhnya Sang Mutiara Hidup Bertahta.

Ketiga:
Bahwa sesungguhnya roh organisasi SH Terate adalah persaudaraan. Karena itu saya berwasiat, sucikan roh organisasi ini dari kepentingan pribadi dan golongan. Jangan mencoba membawa SH Terate kemana-mana. Tapi SH Terate harus ada di mana-mana. Hindarkan nafsu adigang adigung adiguna. Peliharalah harkat dan martabat persaudaraan dengan dharma kemanusiaan serta
setiap saat berani tampil ke depan untuk memayu hayuning bawana.

Bahwa pencak silat adalah ilmu beladiri yang luhur. Warisan budaya adiluhung, berintikan seni olahraga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kebenaran, kehormatan, kedamian dan ketentraman. Karena itu saya berwasiat, pergunakan ilmu pencak silat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.

Saya mengharamkan kepada keluarga besar Setia Hati Terate memanfaatkan pencak silat untuk berbuat maksiat, membela kemungkaran serta berkelahi tanpa sebab prinsip yang sudah menyinggung harkat dan martabat kemanusiaan.

Minggu, 03 Januari 2010

Ritual Pengesahan Warga Baru SH Terate


Tepat pukul 21.00, Sasana Pendadaran Padepokan SH Terate Pusat Madiun, di Jl. Merak, mendadak berubah jadi senyap. Hiruk pikuk ratusan warga berpakaian sakral, serta merta terhenti. Sungguh, satu pun tidak ada pengunjung yang berpakaian lain. Semuanya serba sakral. Pakaian hitam-hitam, bersabuk mori.

Sesaat kemudian dari pengeras suara yang dipasang, terdengar pengumuman dari pembawa acara, bahwa Ritual Pengesahan Warga Baru SH Terate 1413 H, segera dimulai.

Keheningan, menyeruak ke permukaan. Ratusan warga baru yang hendak disyahkan duduk bersila, mengitari gunungan uba rampe. Sementara, Dewan Pengecer duduk di depan. Di pusat pasewakan agung, tampak jajaran Nawa Pandito. Kemudian disampingnya pengurus pusat dan panitia pengesahan serta warga senior.

Kecuali Mas Sakti Tamat, yang berada di Jakarta, semua jajaran Nawa Pandito SH Terate hadir dalam Ritual Pengesahan Warga Baru SH Terate 1413 yang digelar di Padepokan. Mereka adalah, H. Tarmadji Boedi Harsono,SE, Drs. Moerdjoko HW, Ir. RB Wiyono, Subagyo, SE, Djunaidi,SE, Drs. HM Singgih, Drs. H.Arief Suryono dan Gunawan (Tegal).

Keheningan bertambah ritmis ketika Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, menuju mimbar untuk menyampaikan petuah disusul doa dan wasiat kepada Calon Warga Baru. Suasana, khusuk benar-benar terasa dalam selamatan ini.”Ritual pengesahan warga baru, dimulai dari selamatan hingga keceran. Jadi sepanajng acara, semalam suntuk, harus sacral. Harus khusuk,” ujar Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, H.Tarmadji Boedi Harsono,SE.

Berbeda dengan acara lain, misalnya syukuran warga baru, lanjut Mas Madji, panggilan akrab ketua umum SH Terate, tamu undangan boleh berpakaian batik atau pakaian apa saja, yang penting sopan. Tapi dalam ritual pengesahan warga baru, semua yang hadir harus perpakaian sacral. Tidak boleh tidak.

Pantauan shteratecantrik, pengunjung yang tidak berpakaian sakral, biasanya tahu diri. Mereka menyingkir ke luar ruang pengesahan. Atau menunggu di luar arena pengesahan.

Sebagai acuan cabang seantero Indonesia, SH Terate Pusat Madiun, tampaknya tidak main-main dalam menerapkan aturan ini. Terbukti, ritual pengesahan warga baru SH Terate DKP Madiun yang digelar di Padepokan selama hampir dua pekan, nyaris sempurna. Suasana sakral dan khusuk mewarnai sepanjang acara pengesahan.

Jadwal acara pengesahan itu sendiri di format cukup matang. Di mulai pukul 21.00 dengan mata acara selamatan, pembacaan doa serta wasiat Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun. Tenggang waktu yang dibutuhkan untuk upacara selamatan ini tak lebih dari satu jam.

Berikutnya, waktu digunakan untuk istirahat sambari makan bersama.Sementara, calon warga baru, diminta tetap berada di dalam ruangan. Kecuali yang ingin buang air. Itu pun waktunya dibatasi.

Rampung selamatan, panitia menyiapkan perlengkapan prosesi keceran. Sementara, sambil menunggu waktu keceran yang dimulai tepat pukul 00.00, jajaran Nawa Pandhito memberikan pengarahan dan penajaman ke-SH-an pada calon warga baru. Intinya, menjelaskan makna prosesi pengesahan.

Dengan penjelasan ini, calon warga baru yang bakal disyahkan, betul-betul memperoleh pemahaman tentang prosesi yang akan dilakukan.”Di situ saya jelaskan secara rinci arti pengesahan. Jadi calon warga baru benar-benar siap menghadapi prosesi keceran. Saya tidak segan-segan mempersilakan calon warga baru yang belum siap untuk membatalkan niatnya. Jadi yang ikut pengesahan waerga baru SH Terate benar-benar orang yang sudah paham dan siap. Bagi yang tidak siap, saya persilakan keluar ruangan,” kata Mas Madji.

Benar, tepat pukul 00.00, semua calon warga baru yang bakal disyahkan masuk ke ruang pengesahan. Prosesi keceran pun dimulai. Suasana khusuk makin terasa. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke ruang ini. Kecuali calon warga baru, pendamping dan dewan pengecer. Jajaran Nawa Pandhito pegang kendali sepanjang prosesi keceran.

Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, cukup selektif memilih dewan pengecer. Terbukti, tidak semua warga Tingkat II ditugaskan menjadi dewan pengecer. Sekalipun, dimata warga, mereka terbilang senior.”Dewan Pengecer harus benar-benar mumpuni,” tegas Mas Madji.

Khusus pendamping calon warga baru, mereka hanya diperbolehkan mengantar siswanya ke dalam ruang dan mengabsen. Setelahnya, diminta keluar dari ruang prosesi keceran. Dus, sepanjang prosesi keceran berlangsung, hanya berada di ruangan hanya dewan pengecer dan calon warga baru.

SH Terate Cantrik sempat merinding mengamati prosesi keceran yang digelar di Padepokan SH Terate Pusat Madiun. Sebab, begitu prosesi keceran dimulai, suasana hening benar-benar tercipta. Waktu seakan berhenti.Di ruang prosesi keceran nyaris tak terdengar suara. Kecuali langkah Nawa Pandito dan helaan nafas panjang dari calon warga baru yang tengah menjalani prosesi keceran.

Dalam temaran berkas sinar lilin, lantunan doa munajat pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, seakan tampak naik membubung ke angkasa,k di sela helaan nafas panjang Dewan Pengecer dan calon warga baru.

Prosesi keceran rampung sekitar pukul 02.00. Wajah-wajah haru, serta merta menyeruak ke permukaan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian jurus kunci dank ode. Ucapan selamat merupakan pamungbkas acara yang sangat mengharukan. Tangis haru menyeruak saat warga baru bersalaman dengan pelatih dan warga yang hadir di acara sacral itu. Selamat, semoga barokah.(elpos)

Informasi Terbaru Lawupos.Net